67. AL WAHID (Dzat Yang Maha Esa) Mulai Asma’ ke 2 sampai dengan Asma’ ke 49 Allah Ta’ala menjelaskan segala pemberian-pemberianNya. Allah Ta’ala telah memberikan segala sesuatu yang dibutuhkan hamba-hambaNya selama hidupnya didunia, membimbingnya, menjaganya, menurunkan kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya dan masih banyak sekali kebaikan-kebaikan yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba-hambaNya. Semua itu Allah Ta’ala lakukan dengan tujuan agar semua hamba-hambaNya bisa selamat dan masuk kedalam syurga. Asma’ ke 50 sampai dengan Asma’ ke 66 Allah Ta’ala menerangkan ancaman-ancamanNya. Apabila manusia hidup didunia tidak sesuai dengan petunjuk yang telah Dia turunkan, maka mereka akan mendapati kesengsaraan dihari akhir kelak. Karena semua manusia akan menghadap kehadirat Allah Ta’ala untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya selama hidup didunia. Bagi orang-orang yang mengelola segala pemberian-pemberian Allah Ta’ala dengan benar sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang telah Allah Ta’ala tentukan, maka mereka akan menerima kebahagiaan dan keselamatan diakhirat kelak. Asma’ ke 67 sampai Asma’ ke 99, adalah bagaimana cara kita bersikap kepada Allah Ta’ala. Yang perlu kita ingat, pada dasarnya Allah Ta’ala tidak berkeinginan untuk menghukum hamba-hambaNya didalam neraka. Oleh sebab itu Allah Ta’ala SWT selalu memberikan peringatan-peringatan, petunjuk-petunjuk, dan lain sebagainya agar manusia bisa selamat. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mau dan menolak kebenaran serta selalu memperturutkan hawa nafsunya, maka dengan sangat terpaksa Allah Ta’ala akan menyiksanya. Dan yang paling menyakitkan dan membuat Allah Ta’ala murka adalah : “Apabila hamba-hambaNya tidak mau beriman kepadaNya dan menyekutukanNya (meyakini ada tuhan-tuhan yang lain selain Dia)” Padahal Allah Ta’ala telah memberikan segala-galanya dan mencukupi segala kebutuhannya dan Allah Ta'ala adalah Al Wahid yaitu Dzat Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagiNya. Oleh sebab itu pertama sekali yang dapat menyelamatkan manusia diakhirat kelak adalah iman dan tidak menyekutukan Allah Ta’ala dengan sesuatu apapun. Karena apabila tidak beriman percuma saja melakukan kebaikan-kebaikan. Dan apabila seseorang melakukan kemusyrikan, maka semua amal kebaikannya akan terhapus. Sehingga sebanyak apapun amal akan terhapus, sehingga menjadi sia-sia tidak ada guna. Sesuai Surat Az Zumar (39) : 65 65. Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Begitu sulitnya melakukan amal-amal kebaikan, karena kita harus mengendalikan hawa nafsu, melawan syetan, mengorbankan tenaga, harta dan lain sebagainya. Akan tetapi apabila kita menyekutukan Allah Ta’ala, maka semua itu akan terhapus dan menjadi sia-sia. Oleh sebab itu kemusyrikan ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Kebanyakan orang menyekutukan Allah Ta’ala disebabkan memperturutkan hawa nafsunya. Sehingga dia meyakini ada yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat selain Allah Ta’ala. Sebagai kontrolnya untuk melihat apakah kita menyekutukan Allah Ta’ala dengan selain-Nya adalah dengan Surat At Taubah (9) : 24 24. Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah Ta’ala dan RasulNya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah Ta’ala mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah Ta’ala tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. 1. Apabila kita meyakini orang tua bisa memberikan manfaat dan mudhorat, sehingga kita lebih mengutamakan dan mencintai orang tua dari pada Allah Ta'ala, maka kita telah menyekutukan Allah Ta'ala. Sebagai contohnya kita takut jika melanggar perintah orang tua kita akan mendapatkan kemudhoratan dan segala kebutuhan kita tidak terpenuhi. Padahal perintah orang tua tersebut jelas-jelas melanggar hukum-hukum Allah Ta'ala. 2. Apabila kita meyakini bahwa anak bisa memberikan manfaat dan mudhorat, sehingga kita lebih mencintai dan mengutamakan anak dari pada Allah Ta'ala, maka kita telah menyekutukan Allah Ta'ala. Sebagai contohnya kita selalu menuruti apa yang diinginkan sang anak karena takut jika keinginannya tidak kita penuhi dia akan memudhoratkan kita. Padahal keinginan anak hanyalah memperturutkan hawa nafsu. 3. Apabila kita meyakini bahwa saudara-saudara bisa memberikan manfaat dan mudharat, sehingga apapun yang mereka inginkan akan kita penuhi, padahal keinginan mereka melanggar hukum-hukum Allah Ta'ala, maka kita telah menyekutukan Allah Ta'ala. Hal ini disebabkan kita takut jika tidak memenuhi keinginan mereka, maka mereka akan memberikan kemudhoratan kepada diri kita. 4. Apabila kita meyakini isteri bisa memberikan manfaat dan mudharat, sehingga kita lebih mencintai dan mengutamakannya dari pada Allah Ta'ala, dan apapun keinginannya selalu kita turuti padahal keinginannya hanya memperturutkan hawa nafsu, maka kita telah menyekutukan Allah Ta'ala. Sebagai contohnya kita merasa takut jika tidak memenuhi keinginan sang isteri, maka dia akan memudhoratkan kita, tidak menyayangi kita, tidak melayani kita dan lain sebagainya. 5. Apabila kita meyakini kaum keluarga bisa memberikan manfaat dan mudharat, sehingga apapun yang menjadi kepentingan kaum keluarga tersebut selalu kita dahulukan, padahal kepentingan mereka melanggar hukum-hukum Allah Ta'ala, maka kita telah menyekutukan Allah Ta'ala. Hal ini disebabkan kita merasa takut, jika tidak menuruti kepentingan mereka, maka mereka akan memudhoratkan dan memusuhi kita. 6. Apabila kita meyakini bahwa harta kekayaan yang kita usahakan bisa memberikan manfaat dan mudharat, sehingga kita mencintainya dan enggan untuk menafkahkannya dijalan Allah Ta'ala, maka kita telah menyekutukan Allah Ta'ala. Sebagai contohnya kita merasa takut apabila menafkahkan harta kekayaan akan terjadi kemudhoratan (menjadi miskin). Dan kita merasa tenang dan senang jika menyimpan harta kekayaan tersebut akan menjadi bahagia. 7. Apabila kita meyakini bahwa perniagaan yang kita khawatiri kerugiannya bisa memberikan manfaat dan mudharat, sehingga kita rela mengorbankan dan melupakan kewajiban-kewajiban kepada Allah Ta'ala dan lebih mengutamakan perniagaan karena takut akan mendapatkan hasil yang sedikit (rugi), maka kita telah menyekutukan Allah Ta'ala. 8. Apabila kita meyakini tempat tinggal yang kita sukai bisa memberikan manfaat dan mudharat, sehingga kita lebih mencintainya dari pada Allah Ta'ala, maka kita telah menyekutukan Allah Ta'ala. Sebagai contohnya kita rela menghabiskan uang yang banyak untuk memperindah dan membagusi rumah tempat tinggal, tetapi tidak mau menafkahkan harta dijalan Allah Ta'ala. Kita lebih senang tinggal dirumah dari pada berjuang dijalan Allah Ta'ala (melakukan amal-amal sholeh). Allah Ta’ala sangat benci dan murka kepada orang-orang munafiq. Karena disatu sisi dia sholat, zakat, berpuasa dan haji. Akan tetapi disisi lain dia menyekutukan Allah Ta’ala, mencari Tuhan selain Dia, meyakini ada yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat selain Dia, tidak percaya dengan janji-janjiNya, tidak percaya dengan ancaman-ancaman-Nya, dan tidak mau mematuhi semua hukum-hukum-Nya. Ibaratnya seorang isteri yang mengurusi, melayani dan patuh kepada suaminya didalam rumah. Akan tetapi disisi lain dia selingkuh, bersenang-senang dan mencari laki-laki lain. Tentunya sang suami akan sangat marah dan benci kepada isterinya tersebut. Padahal didalam rumah, sang suami telah mencukupi segala kebutuhan isterinya, membimbingnya, dan memberikan yang terbaik kepadanya, akan tetapi sang isteri justru mencari laki-laki lain. Begitupun juga Allah Ta’ala telah memberikan segala-galanya kepada kita. Memberi kita makan, pakaian, tempat tinggal dan lain sebagainya. Akan tetapi kita justru menyekutukanNya dan mencari tuhan-tuhan yang lain selain Dia. Oleh sebab itu Allah Ta’ala sangat murka dan benci kepada orang-orang yang seperti ini. Sehingga Dia tidak akan mengampuni dosa syirik. Sesuai surat An Nisa’ (4 ) : 48 dan 116 48. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah Ta’ala, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. 116. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah Ta’ala, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Apabila kita ingin selamat diakhirat kelak, maka setiap saat kita harus meng-Esakan Allah Ta’ala dan jangan sekali-kali menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Jangan sampai kita pertaruhkan sesuatu yang sangat berharga (syurga) dengan sesuatu yang sangat murah dan rendah (dunia). Kita harus benar-benar menanamkan didalam hati kita satu keyakinan bahwa hanya Allah Ta’ala yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat. Oleh sebab itu bagi orang yang benar-benar meyakini didalam hatinya bahwa hanya Allah Ta’ala yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat, setelah itu dia ucapkan dengan lisan dan setelah itu dia buktikan dengan perbuatan, maka dia akan mendapatkan syurga. Apabila semua pemberian Allah Ta’ala kita pakai untuk meng-Esakan Allah Ta’ala, maka dia nanti akan bersaksi dan memohon agar Allah Ta’ala memberikan kebahagiaan kepada kita. Akan tetapi sebaliknya apabila kita pakai untuk menyekutukanNya, maka mereka akan memberikan kesaksian buruk dan berdo’a agar Allah Ta’ala menghukum kita. Para sahabat zaman dahulu sangat bersungguh-sungguh didalam mencari Allah Ta’ala, memilih Allah Ta’ala sebagai Tuhannya dan tidak mensekutukanNya dengan sesuatu apapun. Bahkan dia rela mengorbankan harta, tenaga dan jiwanya untuk menyenangkan Allah Ta’ala. Sehingga mereka bisa selamat diakhirat kelak serta mendapatkan kedudukan yang tinggi disisi Allah Ta’ala. Akan tetapi sekarang ini kita justru sering kali memperturutkan hawa nafsu. Tidak mau mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, tidak mau mengorbankan harta, tenaga apalagi jiwa untuk menyenangkan Allah Ta’ala. Oleh sebab itu sangatlah mustahil kita bisa selamat jika tidak mau bersungguh-sungguh didalam mengenal Allah Ta’ala, memilih Allah Ta’ala dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu yang lain. Salah satu kekasih Allah Ta'ala berpesan : “Bagaimana mungkin akan tergambar Allah Ta’ala dihatimu, jika dihatimu masih dipenuhi dengan gambar-gambar yang lain?” Oleh sebab itu isilah hati kita hanya dengan Allah Ta’ala dan letakkanlah segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Kendaraan letaknya digarasi jangan diletakkan dihati, sehingga apabila kendaraan kita tergores hati kita tidak ikut tergores. Uang letaknya didompet jangan diletakkan dihati, sehingga apabila berkurang tidak membuat hati kita sakit. Isteri dan anak adalah amanah dari Allah Ta'ala dan ladang untuk mendapatkan amal, jangan sekali-kali kita letakkan dihati. Begitupun juga dengan yang lain. Definisi tuhan adalah segala sesuatu yang kita yakini bisa memberikan manfaat dan mudhorat. Apabila kita mengatakan bahwa satu-satunya Tuhan hanyalah Allah, berarti hanya Dia yang bisa memberikan manfaat dan mudhorat. Apabila masih ada yang kita yakini bisa memberikan manfaat dan mudhorat selain Allah berarti kita telah musyrik. Apabila diri kita, orang lain, uang, pekerjaan, jimat-jimat, tempat keramat dan lain sebagainya kita yakini bisa memberikan manfaat dan mudhorat berarti Allah kita sekutukan. Dalam hidup ini banyak sekali manusia yang masih meyakini bahwa ada yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat selain Allah. Dan yang paling banyak dijadikan tuhan adalah uang. Karena banyak sekali orang yang bingung jika tidak punya uang, walau orang yang kaya sekalipun. Oleh sebab itu kekayaan itu letaknya dihati bukan dimateri. Apabila orang itu hidupnya qon’ah (sederhana) maka hidupnya akan kaya. Akan tetapi jika seseorang itu tamak, maka akan selalu merasa miskin. Sebagai contohnya ada orang yang sudah memiliki mobil tetapi masih ingin memiliki mobil yang lebih baik lagi, tentu orang tersebut akan merasa miskin. Jadi segala sesuatu yang kita inginkan diluar kemampuan kita, maka ini yang dinamakan tamak dan inilah yang akan membuat kita fakir selama-lamanya. Untuk itu kita tidak boleh mngharapkan segala sesuatu dengan segera yang diluar kesanggupan kita. Dalam hidup ini masih ada yang orang-orang yang lebih susah dibanding kita, dengan demikian hendaklah kita bersyukur. A. Sisi Tafakkurnya Masih adakah selain Allah Ta’ala yang kita yakini dapat memberikan manfaat dan mudhorat. B. Contoh Do’a Dari Sisi Keimanan Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan orang-orang yang hanya mempertuhankan Engkau dan hanya mencintai Engkau. C. Sikap Orang Beriman Dia sangat yakin bahwa hanya Allah Ta'ala satu-satuNya Tuhan yang Maha Esa dan hanya Allah Ta'ala yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat. Didalam hidup ini banyak sekali orang-orang yang meyakini selain Allah Ta'ala bisa memberikan manfaat dan mudhorat. Pertama adalah dirinya sendiri yaitu hawa nafsu, setelah itu orang lain, harta, ilmu, kekuasaan, azimat-azimat, benda-benda pusaka dan lain sebagainya. Untuk mencapai keimanan memang sungguh berat walaupun hanya setitik. Karena iman hanya bisa dicapai dengan kesungguhan dan izin Allah Ta'ala. Padahal yang bisa menyelamatkan kita diakhirat kelak hanyalah keimanan. Untuk mennggapai sebuah keimanan banyak sekali halangan dan ujian terutama adalah hawa nafsu dan orang-orang disekeliling kita. Baik itu orang tua, anak, isteri dan lain sebagainya. Kemudian harta, ilmu, kekuatan dan kekuasaan. Dan semuanya itu seolah-olah dapat memberikan manfaat dan mudhorat. Oleh sebab itu untuk menggapai keimanan dibutuhkan kesungguhan. Beriman adalah perintah Allah Ta'ala yang harus kita laksanakan. Akan tetapi disisi lain tidaklah mungkin kita dapat beriman kecuali atas izin Allah Ta'ala. Diantara keduanya Allah Ta'ala berfirman, bahwa tidak dibiarkan saja seseorang mengaku beriman sebelum diuji lagi. Sesuai Firman Allah Qs. Al Ankabut (29) : 2 2. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Maksudnya adalah, Allah Ta'ala tidak percaya dengan ucapan seseorang yang mengatakan bahwa dirinya telah beriman, sebelum diuji terlebih dahulu dengan kemanfaatan dan kemudhoratan, dengan orang-orang yang disekitarnya, dengan harta, pekerjaan dan lain sebagainya. Apabila seseorang bisa melewati ujian-ujian tersebut yaitu selalu memilih Allah Ta'ala, maka Allah Ta'ala akan mengakuinya serta mengizinkannya menjadi orang yang beriman. Kalau ujian keimanan hanya ada dua pilihan, yaitu memilih Allah Ta'ala atau memilih selain Allah Ta'ala. Ibaratnya ada seseorang yang melamar sebuah perusahaan karena ingin menjadi karyawan diperusahaan tersebut. Tentunya dia akan diuji terlebih dahulu, dan apabila lulus baru akan diterima sebagai karyawan. Allah Ta'ala akan menguji seseorang disesuaikan dengan kelemahannya. Apabila kelemahan seseorang dengan orang tua, maka dia akan diuji dengan orang tuanya. Apabila kelemahan seseorang dengan anak, maka akan diuji dengan anak. Apabila kelemahan seseorang dengan isteri (wanita), maka dia akan diuji dengan wanita. Apabila kelemahan seseorang dengan harta, maka dia akan diuji dengan harta. Begitu juga dengan yang lainnya. Dari semua itu, siapakah yang kita pilih? Apabila kita memilih Allah Ta'ala berarti kita berhasil dan kita akan diizinkan menjadi orang yang beriman. Akan tetapi jika kita memilih selain Allah Ta'ala, berarti kita gagal dan masih termasuk orang-orang musyrik (menyekutukan Allah Ta'ala). Begitu pentingnya keimanan, karena dengan keimanan inilah amal-amal yang kita lakukan bisa diterima oleh Allah Ta'ala, sehingga bisa menyelamatkan kita diakhirat kelak. Tanpa keimanan, sebanyak apapun amal yang kita lakukan tidak akan diterima oleh Allah Ta'ala dan tidak akan diperhitungkan diakhirat kelak (menjadi sia-sia). D. Sikap Orang Bertaqwa Dia akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk dapat membuktikan keyakinannya tersebut. Sehingga dalam keadaan apapun dan sesulit apapun dia selalu memilih Allah Ta'ala dan meng-Esakan Allah Ta'ala. Apabila diuji dengan orang tua, dia memilih Allah Ta'ala. Apabila diuji dengan anak, dia tetap memilih Allah Ta'ala. Apabila diuji dengan isteri (wanita), dia tetap memilih Allah Ta'ala. Apabila diuji dengan harta, dia tetap memilih Allah Ta'ala. Apabila diuji dengan perniagaan (pekerjaan), dia tetap memilih Allah Ta'ala. Begitu juga dengan hal-hal yang lain. Didalam kehidupannya, Dia tidak berani menyekutukan Allah Ta'ala dengan sesuatu apapun, terutama dengan dirinya sendiri yaitu hawa nafsu. Apapun akan dia lakukan untuk memilih Allah Ta'ala. Dia berani mengorbankan harta, jiwa, tenaga dan apapun yang dia miliki untuk membuktikan kepada Allah Ta'ala, bahwa dia adalah seorang hamba yang hanya meyakini satu Tuhan yaitu Allah Ta'ala. E. Contoh Do’a Dari Sisi Ketaqwaan Ya Allah, tolonglah kami agar kiranya kami tidak mempertuhankan selain Engkau dan tidak mencintai segala sesuatu selain Engkau. Perlu kita ingat.., bahwa setiap do’a yang kita mohonkan harus diawali dengan ikhtiyar terlebih dahulu. Karena tanpa ikhtiyar, maka do’a yang kita mohonkan akan menjadi sia-sia belaka. F. Sikap Orang Bertawakkal Apabila dia telah membuktikan keyakinannya dengan perbuatan, maka dia-pun berserah diri kepada Allah Ta'ala dengan penuh harapan, bahwa Allah Ta'ala akan memasukkannya kedalam golongan Dia. Kemudian dia-pun berdo’a : “Ya Allah ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada Engkau. Maka ampunilah kami dan lepaskanlah kami dari azab neraka”. G. Sikap Orang Mukhlis Untuk mendapatkan keimanan, maka Allah Ta'ala akan memberikan ujian-ujian. Akan tetapi semua itu dia terima dengan ikhlas. Bahkan dia sangat senang, karena dengan ujian itulah dia dapat membuktikan bahwa dirinya telah memilih Allah Ta'ala. H. Sikap orang-orang yang telah meneladani Asma’ Al Wahid Apabila sudah menjadi kholifah, maka ia akan meyakini bahwa hanya Allah Ta’ala yang dapat memberikan manfaat mudharat. Dan ia tidak akan pernah menyekutukan Allah Ta’ala, sehingga baik perkataan atau perbuatannya selalu meng-Esakan Allah Ta’ala. I. Contoh do’a bagi yang ingin meneladani Asma’ Al Wahid Ya Allah, jadikanlah kami perantara-perantaraMu didalam membimbing manusia agar mereka hanya mempertuhankan Engkau dan mencintai Engkau. Sehingga manusia dapat mengetahui bahwa sesungguhnya penghambaan itu hanyalah kepada Engkau, karena hanya Engkaulah yang dapat memberikan manfaat dan mudhorat.